Sabtu, 28 Agustus 2010

Pertempuran Iwo Jima



Peperangan di Iwo Jima adalah peperangan yang terjadi di pulau Iwo Jima antara tentara Amerika dan tentara Jepang. Peperangan itu berlangsung mulai dari tanggal 19 Febuari 1945 hingga 26 Maret 1945. Meskipun kekalahan tentara Jepang telah dapat diprediksi sebelum perang dimulai, namun tentara Jepang tidak ingin begitu saja menyerahkan Iwo Jima kepada Amerika. Hal ini dikarenakan Iwo Jima merupakan salah satu titik strategis bagi negara Jepang. Apabila tentara Amerika berhasil merebut Iwo Jima, maka dapat dipastikan tentara Amerika akan lebih mudah di dalam menyerang daerah Jepang lainnya. Hal ini jugalah yang membuat Amerika gigih untuk merebut pulau ini.

Peperangan itu berakhir dengan kemenangan di tangan tentara Amerika, seperti yang telah diprediksikan sebelumnya. Kekalahan tentara Jepang disebabkan oleh perbedaan teknologi dan keuangan yang mencolok antara negara Jepang dan negara Amerika. Tentara Jepang tidak memiliki teknologi dan peralatan sebaik yang dimiliki oleh tentara Amerika. Selain itu, tentara Jepang juga tidak memiliki tempat untuk mundur sehingga tidak mungkin untuk melakukan serangan balasan kepada tentara Amerika. Pada akhir perang, kematian tentara Jepang mencapai angka 17,000 orang sementara tentara Amerika hanya kurang lebih sepertiga dari jumlah itu, yakni 6,822 orang meskipun jumlah tentara Amerika yang menderita luka – luka adalah 19,217 orang. Secara keseluruhan jumlah korban pada tentara Amerika lebih banyak daripada jumlah korban pada tentara Jepang (meski dengan jumlah korban meninggal yang lebih banyak pada tentara Jepang namun hanya pada peperangan ini sajalah jumlah korban pada tentara Amerika pernah melampau tentara Jepang).

Kematian prajurit Jepang bukan hanya disebabkan oleh prajurit Amerika secara langsung, melainkan juga disebabkan oleh kode etik bushido yang mereka miliki dan adanya propaganda yang mengisukan bahwa prajurit Amerika adalah prajurit yang bengis dan kejam serta suka menyiksa tentara Jepang yang menyerah atau pun tertangkap. Hal itu menyebabkan banyak prajurit Jepang yang memilih untuk melakukan bunuh diri daripada harus menyerahkan diri atau tertangkap prajurit Amerika.

Bushido (武士道), artinya jalan ksatria, adalah kode etik samurai yang berkembang pada masa pemerintahan feudal di Jepang. Kode etik ini diresmikan pada masa pemerintahan Tokugawa. Bushido mengajarkan keberanian untuk membela kerajaan/negara dan kaisar hingga mati. Nilai – nilai yang dipercayai terkandung di balik kode etik ini adalah : kesetiaan, kehormatan, kepatuhan, tanggung jawab, bakti,dan pengorbanan diri.

Peperangan di Iwo Jima ini diabadikan oleh seorang fotografer perang bernama Joe Rosenthal dalam fotonya yang berjudul “Raishing of the U.S. Flag”. Foto tersebut menggambarkan 6 orang prajurit Amerika yang mendirikan bendera Amerika di gunung Suribachi pada tanggal 23 Febuari 1945 Meskipun foto tersebut baru diambil sehari setelahnya dan bukan menggunakan bendera yang pertama sekali dikibarkan oleh tentara Amerika.

Foto tersebut lantas menjadi sebuah foto yang monumental bagi negara Amerika mengenai peperangan di Iwo Jima. Foto tersebut diproduksi oleh berbagai media massa di Amerika. Penduduk Amerika seakan tidak pernah bosan karenanya. Roosevelt, presiden Amerika pada saat itu, melihat hal itu sebagai sebuah ide yang tepat untuk tema tur penggalangan dana yang akan dilakukan (bond tour). Tur tersebut berhasil menggalang dana sebesar 24 miliar dolar (pada tahun 1945) yang merupakan penggalangan dana terbesar dalam sejarah Amerika.

Sebelum peperangan, Jendral Tadamichi Kuribayashi ditugaskan untuk mempertahankan Iwo Jima. Jumlah prajurit Jepang yang dipimpin oleh Jendral Kuribayashi kurang lebih 18,000 orang. Sementara jumlah prajurit yang dikerahkan oleh tentara Amerika adalah 70,000 orang. Jendral Kuribayashi melakukan evakuasi terhadap penduduk yang berada di Iwo Jima, yang berarti bahwa Ia akan mempertahankan Iwo Jima hingga titik darah penghabisan. Jendral Kuribayashi menyadari bahwa Jepang tidak mungkin memenangkan perang tersebut, namun Ia ingin memberikan perlawanan yang berarti terhadap tentara Amerika supaya tentara Amerika menimbang kembali rencana untuk menyerang Jepang.

Peperangan di Iwo Jima dimulai oleh tentara Amerika yang melakukan bombardir pada pulau tersebut. Penyerangan oleh tentara Amerika dilakukan pada pukul 2 dini hari, waktu setempat, tanggal 19 Febuari 1945. Bombardir oleh tentara Amerika dilakukan melalui kapal perang, meriam, roket, dan pesawat tempur. Tentara Jepang bertahan dalam kubu – kubu pertahanan mereka di gunung Suribachi.

Pagi harinya, pada pukul 08:59, tentara Amerika mulai mendarat meskipun masih lebih awal satu menit dari jadwal seharusnya. 30,000 prajurit marinir Amerika telah mendarat di pantai namun mereka tidak mendapatkan serangan apapun dari tentara Jepang. Hal ini disebabkan oleh taktik dari Jendral Jepang Kuribayashi. Jendral Kuribayashi menunggu hingga pantai dipenuhi oleh prajurit Amerika dan peralatan dari tentara Amerika sebelum memulai penyerangan. Pada awalnya tentara Amerika tidak menaruh rasa curiga karena berasumsi bahwa prajurit Jepang di sekitar tempat itu telah berhasil ditewaskan oleh bombardir yang dilakukan oleh tentara Amerika.

Taktik itu berhasil membuat tentara Amerika cukup kebingungan dan kewalahan. Oleh karena posisi bunker tentara Jepang dan posisi menembak yang baik, banyak prajurit Amerika yang berhasil ditewaskan oleh tentara Jepang. Selain karena bunker – bunker tentara Jepang, tentara Amerika juga kewalahan menghadapi serangan tentara Jepang dari gunung Suribachi. Tentara Amerika kesulitan untuk maju karena medan yang tidak bersahabat dan dipenuhi oleh abu vulkanik. Abu vulkanik ini menyebakan tentara Amerika tidak dapat berpijak dengan baik maupun membangun pertahanan untuk melindungi prajurit Amerika dari serangan tembakan musuh. Meskipun begitu, abu vulkanik ini juga membantu tentara Amerika dalam menyerap sebagian tembakan dari artileri (senjata berat) tentara Jepang.

Tentara Amerika cukup kewalahan dalam menghadapi tentara Jepang yang bersembunyi di bunker – bunker bawah tanah.Tentara Amerika menggunakan granat dan penyembur api untuk membersihkan bunker – bunker tentara Jepang. Namun, tentara Amerika tidak menyangka bahwa bunker – bunker bawah tanah tentara Jepang terhubung satu dengan yang lainnya oleh terowongan – terowongan. Hal ini menyebabkan cukup banyak korban pada tentara Amerika karena mereka tidak menyangka bahwa bunker yang telah “dibersihkan” akan kembali diisi oleh prajurit tentara Jepang. Meskipun memakan banyak korban pada pihak tentara Amerika, namun pada akhirnya prajurit tentara Amerika berhasil menduduki dari gunung Suribachi pada sore hari itu.

Pada malam harinya, tentara Amerika mengira bahwa mereka akan menghadapi serangan banzai dari tentara Jepang. Hal ini dikarenakan serangan banzai telah menjadi strategi pertahanan tetap dari tentara Jepang pada perang-perang sebelumnya. Namun ternyata Jendral Kuribayashi melarang untuk dilakukannya serangan banzai. Jendral Kuribayashi menilai bahwa serangan banzai tidak berguna.

Perang semakin ganas. Tentara Amerika menyadari bahwa peluru dan senjata api tidak terlalu berguna dalam menghadapi tentara Jepang. prajurit Amerika mulai menggunakan granat dan penyembur api untuk menghadapi prajurit Jepang. Tentara Amerika memperlengkapi kendaraan tank berukuran sedang mereka dengan penyembur api yang digunakan untuk “membersihkan” bunker – bunker dan terowongan – terowongan tentara Jepang.

Semakin lama tentara Jepang semakin kehabisan air, makanan dan peralatan. Tentara Jepang semakin putus asa. Jendral Kuribayashi yang semula melarang dilakukannya serangan banzai mulai menerapkan taktik tersebut. Serangan banzai itu menyebabkan seringkali prajurit Amerika dan prajurit Jepang harus bertarung dengan tangan kosong pada malam hari. Namun, kekalahan di pihak tentara Jepang tetap tak terelakkan.

Tentara Amerika mempublikasikan rencana untuk menguasai pulau Iwo Jima sebagai pangkalan udara tentara Amerika. Hal ini membuat banyak orang heran dan bertanya apakah tentara Amerika tidak dapat mencari tempat lain sebagai pangkalan udara dengan biaya yang lebih rendah daripada harus menguasai pulau Iwo Jima. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa pulau Iwo Jima diperlukan untuk pengiriman bom Atom Amerika. Pendaratan pesawat B-29 tentara Amerika pada pulau Iwo Jima memulai strategi pemboman Jepang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar